Perempuan dalam Transisi Energi

Perempuan dalam Transisi Energi
© endriq007/Freepik

Penulis: Yessi Febrianty, Coaction Indonesia

Sektor energi seringkali dianggap sebagai ‘wilayah laki-laki’. Jarang sekali peran perempuan muncul dan mendapat sorotan sebagai aktor dalam sektor energi, terutama di Indonesia. Padahal, perempuan memiliki peran yang sama strategisnya dengan laki-laki dalam pengembangan energi terbarukan. Perempuan bahkan memegang peranan kunci sebagai agen perubahan (agent of change) dalam perubahan perilaku di bidang transisi energi. Hal ini bisa kita mulai atau lihat dari lingkup terkecil, seperti dalam keluarga.

Mengutip pernyataan dari Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Dian Kartika Sari bahwa krisis energi yang ingin kita hindari di masa depan, sejatinya akan berdampak secara berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada perempuan, dampak krisis energi akan menambah beban secara fisik dan juga psikis. Hal ini dikarenakan di Indonesia, umumnya beban pekerjaan domestik ditanggung oleh perempuan terutama mereka yang tinggal di pedesaan.

Peran perempuan di Indonesia yang masih sangat lekat dengan peran-peran domestik, memungkinkan perempuan menjadi penentu sekaligus menjadi pihak yang rentan terkena dampak dari pola konsumsi energi dalam sebuah keluarga atau rumah tangga. Sebagai penentu, perempuan berperan besar dalam upaya efisiensi energi dan pengurangan emisi dalam skala rumah, seperti menghemat penggunaan listrik, air hingga pengurangan limbah rumah tangga. Namun, disisi lain perempuan juga menjadi pihak yang rentan terkena dampak, baik dampak positif maupun negatif, dari penggunaan energi.

Di desa-desa yang penduduknya masih menggunakan sumber energi dari alam seperti energi panas dari kayu bakar atau listrik dari genset berbahan bakar bensin untuk menerangi rumah-rumah mereka, akses terhadap energi terbarukan sangat penting. Ketersediaan energi terbarukan akan sangat membantu perempuan di desa-desa yang tidak terjangkau oleh tiang listrik negara dalam meringankan beban mereka sehari-hari. Beban itu antara lain adalah beban fisik (tenaga) dalam mencari, mengumpulkan kayu bakar, beban biaya untuk membeli bahan bakar bensin, beban kesehatan seperti gangguan pernafasan yang mungkin akan muncul akibat asap yang ditimbulkan dari pembakaran kayu dan dampak lainnya.

Dari segi akses terhadap energi terbarukan, baik berupa akses akan informasi maupun teknologi, perempuan seharusnya juga mendapatkan porsi yang sama dengan yang didapatkan laki-laki. Akses informasi misalnya, dapat memberikan pemahaman kepada perempuan mengenai jenis energi yang sesuai dengan kebutuhannya. Akses akan teknologi dapat memberikan peluang kepada perempuan untuk berperan lebih besar dalam efisiensi dan transisi energi. Semakin besar akses dan keterlibatan perempuan dalam transisi energi, akan semakin banyak perempuan lain yang terbantu dan akhirnya ikut mendukung transisi energi lebih cepat hingga ke tingkat tapak.