Media dan Jurnalis: Jembatan untuk Masa Depan Biodiesel

Media dan Jurnalis: Jembatan untuk Masa Depan Biodiesel

Salah satu tantangan terbesar yang kini dihadapi masyarakat global adalah perubahan iklim. Ancaman dari perubahan iklim dapat menimbulkan berbagai dampak, diantaranya perubahan cuaca ekstrim, ancaman terhadap kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem, serta merebaknya berbagai wabah penyakit baru. Pemanfaatan energi terbarukan menjadi bagian upaya mitigasi perubahan iklim yang memiliki peran penting untuk mengurangi penggunaan energi fosil.

Dalam satu dekade terakhir, biodiesel menjadi satu topik yang banyak dibahas di Indonesia. Usai  kebijakan perluasan penggunaan B20 yang diterapkan sejak 1 September 2018 lalu, pemerintah kini lakukan uji coba jalan bahan bakar B30 yang akan berlaku pada tahun 2020. Penggunaan kelapa sawit sebagai bahan bakar dilakukan dalam rangka mengurangi ketergantungan impor, menyediakan BBM yang lebih ramah lingkungan hingga kesejahteraan pekebun. Namun kita patut berhati-hati bahwasanya dengan penggunaan biodiesel yang masif, maka ada kemungkinan lahan perkebunan yang digunakan juga semakin luas. Terdapat kritik yang sangat tajam pada sektor kelapa sawit dalam kaitannya dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit, konversi lahan, dan dampak negatif pada hilangnya keanekaragaman hayati, hilangnya cadangan karbon dan gangguan terhadap ekosistem, serta ancaman terhadap keamanan pangan akibat pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit.

Untuk mendorong penyampaian informasi yang menyeluruh, Koaksi Indonesia bersama dengan SIEJ (Society of Indonesian Environmental Journalists) berkolaborasi membuat sebuah lokakarya bagi jurnalis untuk memperkaya informasi seputar masa depan Biodiesel. Dengan tema Lokakarya Jurnalis dan Lomba Menulis: “Menuju Biodiesel Berkelanjutan dalam Periode Pemerintahan Baru”, Koaksi Indonesia mengundang jurnalis-jurnalis media di Indonesia yang diharapkan mampu menjadi jembatan informasi kepada masyarakat lewat pemberitaan biodiesel berkelanjutan di peliputan media massa, terutama dalam mendorong program biodiesel nasional yang lebih berkelanjutan menjelang masa inagurasi dan 100 hari evaluasi kinerja pemerintahan baru.

Asisten Deputi Produktivitas Energi Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Andi Novianto, dalam paparannya menyampaikan bahwa kebijakan penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) sudah dimulai sejak tahun 2006 melalui Inpres No. 1/2006, kemudian melalui Permen ESDM No. 12/2015 dibuat Roadmap Jangka Menengah untuk implementasi Mandatori Biodiesel. Sejak 1 September 2018 diperlakukan perluasan mandatori di sektor lainnya tidak hanya sektor transportasi.

Sebenarnya, sudah banyak lho pengguna transportasi pribadi menggunakan Bahan Bakar Nabati sejak 2 tahun yang lalu! Banyak sekali manfaat penggunaan bahan bakar Bahan Bakar Nabati seperti biodiesel, salah satunya adalah menghemat devisa. Berdasarkan data, selama tahun 2018 terdapat penghematan devisa dari mandatori biodiesel mencapai 1,88 miliar dan pada tahun 2019 dengan peningkatan penggunaan FAME menjadi 6,2 juta KL. Diperkirakan, ada penghematan devisa sampai USD 3 Miliar. Biodiesel juga mampu memenuhi target 23% EBT pada tahun 2025. Saat ini, pemerintah sudah melakukan percepatan bauran energi dengan B20. Ujicoba untuk B30 diharapkan dapat selesai pada tahun ini seiring dengan road test yang sedang berlangsung. Pihak Pertamina dan ITB sedang mengembangkan green fuel atau yang biasa disebut dengan bahan bakar nabati. Apabila berhasil, sudah tidak perlu lagi Indonesia menggunakan minyak kelapa sawit yang dicampur dengan FAME lagi.

Ada enam poin yang menjadi isu keberlanjutan Biodiesel di Indonesia berdasarkan pemaparan Climate Energy Manager WWF Indonesia, Indra Sari Wardhani, yang pertama yaitu perubahan iklim dan penurunan emisi dari sektor energi menjadi sektor kedua dengan target penurunan emisi. Kedua, energy security itu sendiri (produksi minyak mentah menurun, konsumsi meningkat, impor BBM meningkat). Ketiga, Biodiesel berbasis kelapa sawit ditujukan untuk memperbaiki neraca perdagangan dan mengembalikan harga kelapa sawit. Keempat, ketergantungan biodiesel dengan bahan baku berbasis lahan yang dapat memicu deforestasi. Kelima, biodiesel dari bahan baku komoditas pangan menimbulkan kompetisi dengan pasokan bahan pangan. Pada saat ini belum terjadi karena suplai masih terhitung banyak. Terakhir, subsidi biodiesel seberapa berpengaruhnya terhadap kesejahteraan petani swadaya. Apabila dikaitkan dengan produktivitas, yang mana produktivitas petani swadaya yang terhitung masih rendah, disusul dengan produktivitas kelapa sawit  pun masih rendah, sehingga dikhawatirkan berdampak kepada penggunaan lahan yang kurang efisien.

Menurut Ai – panggilan akrab kak Indah Sari, pengawasan keberlanjutan minyak sawit ini harus ditinjau dari hulu ke hilir, maka dari itu terdapat beberapa badan yang mengawasi regulasi terkait kelapa sawit berkelanjutan yaitu, RSPO atau Roundtable on Sustainable Palm Oil, adalah inisiatif multi-pihak yang berfokus pada sertifikasi minyak sawit didirikan pada tahun 2004. Standar RSPO ini berlaku secara global dan dapat diadaptasi pada tingkat nasional. Lalu ada ISPO atau Indonesian Sustainable Palm Oil adalah sistem kebijakan sertifikasi yang dirancang oleh Kementerian Pertanian Indonesia pada tahun 2009. ISPO menitikberatkan legalitas terkait perizinan perusahaan kelapa sawit. Kenyataannya, masih rendah implementasi yang berada di lapangan dan terakhir ada ISCC atau International Sustainability & Carbon Certification adalah inisiatif global yang dikembangkan di Jerman pada tahun 2008. ISCC ini dikhususkan  menyasar biofuel. Ai menyimpulkan, integrasi dari hulu ke hilir harus dilakukan dari sisi kebijakan. Hal ini menjadi salah satu poin penting untuk keberlangsungan biodiesel. Berapapun peningkatan, peta indikatif harus dijabarkan secara jelas. Selain itu, harus ada edukasi konsumen terkait biodiesel yang berkelanjutan dan semua produk kelapa sawit harus melakukan sertifikasi menandakan dapat dipertanggungjawabkan keberlanjutannya. Adanya program peningkatan produktivitas petani swadaya dengan menggunakan dana BPDPKS untuk pelatihan terhadap petani swadaya agar memenuhi standar. Hal ini disetujui juga oleh Manajer Riset dan Pengembangan Koaksi Indonesia, Azis Kurniawan. Ia mempertegas bahwa harus ada knowledge platform sebagai sarana bertukar pikir dari sisi keilmuan baik dari hulu hingga ke hilir agar semua pihak memahami dan tidak terbatas hanya pada sektor kelapa sawit.

Setelah bertukar informasi dalam lokakarya ini, Koaksi Indonesia juga menyelenggarakan kompetisi menulis terkait Biodiesel Berkelanjutan ini sebagai sarana berlatih menyampaikan informasi dengan juri dari Dewan Pengurus SIEJ, Bina Bektiati, Managing Editor Katadata, Yura Syahrul dan perwakilan Koaksi Indonesia, Azis Kurniawan. Pemenangnya akan diumumkan pada tanggal 25 Agustus 2019 nanti. Siapa ya kira-kira pemenangnya? 😊 (Coaction/Gaby)

shares