Lebaran #DirumahAja Tahun Ini, Yakin Butuh Baju Baru (lagi)?

Lebaran #DirumahAja Tahun Ini, Yakin Butuh Baju Baru (lagi)?
Ilustrasi/Coaction Indonesia

Penulis: Yessi Febrianty/Coaction Indonesia
Editor: Gabriela Kalalo/Coaction Indonesia

Hari raya Idul Fitri merupakan momen besar yang ditunggu oleh umat muslim di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia yang akrab menyebutnya dengan istilah lebaran. Selayaknya sebuah perayaan, banyak hal yang rasanya patut dipersiapkan dalam rangka menyambut lebaran. Di Indonesia dan banyak negara dengan mayoritas muslim lainnya, lebaran identik dengan budaya silaturahmi untuk saling memaafkan, sajian khas lebaran berupa lauk pauk, kue lebaran dan tentu saja tak boleh ketinggalan: baju baru.

Menyoal baju baru saat lebaran ini, redaksi tirto.id pernah melakukan sebuah survei guna mengetahui perilaku masyarakat dalam membeli baju baru untuk lebaran. Tirto.id melakukan riset atas 598 responden beragama Islam yang tinggal di Pulau Jawa. Berdasarkan riset tersebut, sebanyak 61,71 persen masyarakat menyatakan selalu membeli baju baru untuk lebaran setiap tahunnya.[1]

Tingginya antusiasme dan konsumsi masyarakat terhadap pakaian saat lebaran bukanlah sebuah isu baru, sebab hal ini hanya sebagian kecil dari fenomena nyata terkait konsumsi fesyen, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Secara tidak sadar, aktivitas industri fesyen yang menyediakan baju baru untuk dibeli itu merupakan sebuah rantai industri yang panjang dan terbukti mengancam kelestarian lingkungan.

Tren fesyen cepat (fast fashion) yang memproduksi pakaian jadi secara besar-besaran dengan kualitas yang tidak begitu baik, telah menjadi ancaman bagi lingkungan hidup manusia. Hal ini disebabkan oleh penggunaan sumber daya alam, energi dan juga manusia yang begitu besar dalam proses produksinya! Tahukah kamu, bahwa untuk memproduksi sebuah kaos berbahan katun memerlukan kurang lebih 2.700 liter air dalam proses pembuatannya?.

Masih ada beberapa fakta mengejutkan lainnya terkait industri tekstil yang menghasilkan produk-produk fesyen yang selalu diburu, terutama saat lebaran menjelang, diantaranya adalah:[2]

  1. Di dunia, fesyen berkontribusi 92 juta ton sampah solid di tempat pembuangan akhir (TPA)
  2. Industri pakaian dan tekstil adalah pencemar kedua terbesar di dunia setelah minyak
  3. Secara Global, Industri mode menyumbang 20% dari limbah air dunia yang berdampak pada ketersediaan air bersih dan menyumbang 10% dari total emisi karbon dunia yang berdampak pada perubahan iklim
  4. Rata-rata jumlah pohon yang ditebang setiap tahun adalah 85 juta untuk membuat pakaian
  5. Setiap tahunnya, 40,000-50,000 ton, pewarna kain dibuang ke sungai tanpa pengolahan

Fakta-fakta di atas menunjukkan bagaimana selembar pakaian seperti halnya baju lebaran yang seringkali hanya dipakai okasional bahkan hanya sekali pakai itu, mampu menghasilkan dampak yang sangat merusak lingkungan.

Lalu, seperti apa baiknya pola konsumsi pakaian kita?

Berikut beberapa saran yang bisa dilakukan untuk meminimalisir limbah tekstil dari pakaian-pakaian kita:

  1. Sortir isi lemari kamu secara berkala, pilih pakaian yang sudah lama tak terpakai dan masih layak. Kamu bisa donasikan pakaian-pakaian layak tersebut ke panti asuhan atau bisa tukarkan dengan pakaian layak yang ‘baru’ di kegiatan #TukarBaju yang digagas oleh Zero Waste Indonesia;
  2. Modifikasi pakaian lama kamu dengan metode padu-padan pakaian (mix and match), sehingga jadi terlihat baru dan trendi. Tidak punya ide? coba cari tutorialnya di Youtube!;
  3. Gunakan kembali pakaian bekas yang sudah tak layak pakai menjadi barang lain yang berguna, misal: kain lap, keset atau tempat tidur kucing/anjing kesayangan;
  4. Untuk pakaian yang hanya dipakai pada acara tertentu, seperti baju lebaran, gaun pesta atau untuk acara pernikahan (kondangan), saat ini cukup banyak platform jasa penyewaan pakaian online yang bisa kamu coba lho;
  5. Jika semua pilihan di atas memang tidak memungkinkan, maka belilah pakaian disaat memang dibutuhkan. Jika kamu peka terhadap tren, pilihlah mode pakaian yang bersifat netral atau long lasting sehingga bisa digunakan meski tren sudah berganti;
  6. Pilih pakaian dengan bahan berkualitas baik, artinya cukup kuat dipakai dalam jangka waktu yang panjang;
  7. Terakhir, sadarilah bahwa tidak ada yang mengharuskan kamu untuk selalu mengikuti tren terbaru dan nyatanya memang tren tidak selalu cocok untuk semua orang, bukan?.

Jadi, coba pikir dua kali, yakin masih butuh beli baju baru lagi jelang lebaran ditengah pandemi seperti saat ini? Sebelum beli, cek dulu isi lemarimu ya, #EnergiMuda!

Sumber:

[1] https://tirto.id/61-persen-masyarakat-selalu-membeli-baju-baru-saat-lebaran-crBY

[2] https://zerowaste.id/tukarbaju/

https://www.republika.co.id/berita/senggang/blitz/19/09/13/pxnq9p48434659819000-tren-sewa-pakaian-menggantikan-produksi-fast-fashion