Kisah Patriot Energi II: Membawa Harapan ke Desa Long Nawang di Perbatasan

Kisah Patriot Energi II: Membawa Harapan ke Desa Long Nawang di Perbatasan
Ilustrasi/Coaction Indonesia

Penulis: Siti Koiromah, Alumni Patriot Energi Angkatan I, tahun 2015-2016
Editor: Yessi Febrianty/Coaction Indonesia

Halo semuanya! perkenalkan saya Rohmah. Saya merupakan salah satu alumni Patriot Energi Angkatan pertama. Pada angkatan pertama, terpilih 80 orang untuk ditempatkan di sekitar 64 desa di wilayah-wilayah terdepan Indonesia. Patriot Energi memiliki tugas membangun masyarakat melalui pemanfaatan energi terbarukan dan mendampingi masyarakat dalam mempersiapkan pengelolaan PLTS. Program Patriot Energi angkatan pertama memiliki durasi penugasan selama 5 bulan, terhitung dari bulan Oktober 2015-Februari 2016. Seperti yang sudah dikisahkan oleh rekan saya Ridwan, sesama alumni Patriot Energi sebelumnya, kami diharuskan mengikuti pelatihan selama kurang lebih satu bulan untuk mempersiapkan fisik dan mental untuk bertahan hidup di daerah yang asing. Kami juga dibekali pengetahuan mengenai energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

©Siti Koiromah/Coaction Indonesia

Salah satu wilayah penempatan berada di wilayah Malinau, Kalimantan Utara. Terdapat tiga desa yang menjadi lokasi penempatan, dan di tiap desa ditempatkan dua orang patriot. Jika dilihat dari kondisi geografis dan akses menuju lokasi desa penempatan, lokasi penempatan kami terbilang sulit dijangkau. Untuk mencapai desa, salah satu tim di desa lain pernah membutuhkan waktu selama hampir satu minggu menggunakan jalur sungai karena cuaca yang tidak mendukung dan tidak adanya alternatif jalur lain.

Saya sendiri mendapat lokasi penugasan di Desa Long Nawang, Kec. Kayan Hulu, Kab. Malinau, Kalimantan Utara. Desa Long Nawang merupakan sebuah desa di perbatasan Kalimantan Utara-Serawak Malaysia. Dibutuhkan satu jam perjalanan darat untuk tiba di garis perbatasan. Desa ini berada di tengah hutan Kalimantan, sehingga salah satu cara tercepat menuju desa ini adalah dengan menggunakan pesawat perintis yang berkapasitas 4-12 orang dari kota Malinau selama satu hingga dua jam perjalanan udara.

Terdapat dua alternatif rute pesawat perintis menuju desa Long Nawang. Pertama, dengan menggunakan pesawat perintis yang langsung menuju bandara kecil di Desa Long Nawang, penerbangan ini lebih sedikit jadwalnya dan lebih diprioritaskan bagi lansia dan masyarakat yang sakit. Kedua, rute Malinau menuju desa Long Ampung yang memiliki bandara lebih besar dan jalur penerbangan lebih banyak. Jika menggunakan rute ini maka diperlukan tambahan perjalanan darat atau sungai selama satu hingga dua jam.

Selain jalur udara, terdapat juga jalur darat dari Samarinda melalui Long Bagun menuju Desa Long Nawang. Namun, jalur ini sangat bergantung pada cuaca, dimana semakin baik cuaca maka semakin cepat waktu perjalanan.Apabila cuaca buruk, jarak tempuh bisa lebih dari 24 jam. Selama melakukan perjalanan dari desa ke kota, saya selalu menggunakan jalur udara Malinau-Long Ampung karena faktor efisiensi waktu dan keamanan, walau tak jarang penerbangan harus dibatalkan tiba-tiba dan perlu menunggu beberapa hari karena kondisi cuaca buruk.

Bercerita mengenai lokasi penempatan saya, terdapat lima desa di kecamatan Kayan Hulu, yaitu Desa Nawang Baru, Long Betaoh, Long Payau, Long Temuyat dan Desa Long Nawang yang merupakan ibukota kecamatan. Lokasi antara desa Long Nawang dan desa Nawang Baru hanya berkisar dua kilometer, sedangkan desa lainnya dapat ditempuh dengan satu jam perjalanan dari desa Long Nawang apabila kondisi cuaca baik. Mayoritas penduduk desa Kecamatan Kayan Hulu merupakan suku Dayak Kenyah dan umumnya mata pencaharian warga adalah berladang, mereka memiliki ladang di pinggir sungai Kayan di tepi hutan. Lokasi ladang yang lumayan jauh dari pemukiman dan berada di seberang sungai, kadang membuat warga menginap berhari-hari apalagi jika kondisi sungai yang terlalu deras dan dianggap membahayakan untuk diseberangi.

Sungai Kayan adalah sungai besar yang menjadi penopang kehidupan warga desa, dan untuk mengarungi dan menyeberanginya, ketinting adalah salah satu transportasi andalan yang digunakan warga. Ketinting merupakan perahu berbentuk panjang dan dipasang motor pada bagian belakang yang digunakan untuk memutar baling-baling besi sehingga mendorong perahu bergerak, dan motoris (sebutan untuk pengemudi) tinggal mengarahkan agar perahu melaju ke arah yang dituju. Hampir semua warga desa memiliki keahlian untuk membuat perahu ketinting, dan hanya dibutuhkan waktu 3 hari untuk menyelesaikan satu buah perahu.

Akses menuju desa yang terbilang sulit, berimbas pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat hingga akhirnya akses jalur darat dibuka pada tahun 2010. Dibukanya jalur darat memungkinkan adanya perbaikan infrastruktur di desa. Dimulai dengan dibangunnya tower telekomunikasi dan PLTD 20 kV. Selain itu, harga kebutuhan bangunan seperti semen menjadi lebih murah, sehingga  dimanfaatkan warga untuk membuat rumah permanen.Sebelumnya, warga hanya memanfaatkan kayu untuk membuat rumah panggung.

Rumah yang dibangun dari kayu hanya dapat bertahan selama 20 tahun sehingga harus dibuat ulang nantinya. Beberapa kebutuhan sehari-hari warga masih didapatkan dari negeri tetangga, yaitu Malaysia karena akses darat yang lebih terjangkau. Salah satunya adalah bahan bakar minyak (BBM) dijual dengan harga paling murah Rp. 18.000.-/liter dan liquified petroleum gas (LPG) yang sebagian besar masih disupply dari Malaysia., LPG subsidi 3 kg tidak menjangkau desa, yang ada hanya tabung gas 15 kg berwarna kuning yang berasal dari negeri tetangga dimana harganya mencapai 1.200.000,00/tabung (tahun 2015).

Program Patriot Energi angkatan pertama tidak hanya melakukan pengadaan infrastruktur PLTS terpusat, namun ada beberapa pembangunan PLTS hybrid, salah satunya pembangunan PLTS di lokasi penempatan saya. Di Desa Long Nawang dibangun PLTS Hydrid – PLTD (Diesel) dengan kapasitas 100 kWp. Pembangkit PLTS ini akan diintegrasikan dengan PLTD kapasitas 1 MW dalam satu sistem pembangkit sehingga dapat memenuhi kebutuhan listrik di tiga desa: Desa Long Nawang, Desa Nawang Baru dan Desa Long Temuyat.  Dikarenakan bukan merupakan aset desa, maka setelah pembangunannya selesai, PLTS akan diserahterimakan ke pemerintah kabupaten untuk kemudian dikelola oleh unit PLN daerah.

©Siti Koiromah/Coaction Indonesia

Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi antusias masyarakat terhadap kehadiran energi terbarukan. Masyarakat sering membantu proses pembangunan dan konstruksi, sehingga lebih mempersingkat waktu pembangunan,bahkan, beberapa tiang distribusi  juga disediakan secara swadaya oleh masyarakat. Adapun kendala dalam pembangunan PLTS adalah lamanya perjalanan logistik menuju desa karena sangat bergantung pada cuaca dan terbatasnya alat konstruksi, mengingat PLTS yang dibangun memiliki kapasitas yang cukup besar.

PLTS terpusat memang lebih dirasakan manfaatnya karena dikelola dan digunakan langsung oleh masyarakat.  Walaupun PLTS Hybrid-PLTD tidak 100% bebas emisi, teknologi ini merupakan salah satu solusi untuk menciptakan sistem yang handal, efektif, efisien dan memiliki pasokan listrik yang kontinyu di daerah yang memiliki akses sulit. Hal ini sesuai dengan kondisi kecamatan Kayan Hulu yang memiliki lebih dari 500 kepala keluarga.

Pembangunan PLTS berjalan sekitar empat bulan dan tepat sebelum saya kembali ke Jakarta, dilakukan commissioning dan penyerahan aset kepada pemerintah daerah dan PT. PLN. Namun, PLTS belum dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat dikarenakan PLTD yang berada dalam satu sistem pembangkit belum selesai tahap pembangunannya. Masyarakat memang harus menunggu, namun kedepannya akses energi tersebut akan lebih menguntungkan. Masyarakat hanya perlu membayar sesuai tarif R1TM/R1M yang ditetapkan PT. PLN sehingga akan lebih murah. Selain itu, energi yang digunakan juga lebih bersih dan memiliki pasokan yang kontinyu.

Sebelumnya, sumber energi listrik yang digunakan warga adalah PLTD 20 kV dan beberapa generator set di setiap RT. PLTD 20 kV lebih diprioritaskan untuk kantor kecamatan dan kantor polsek, sedangkan sisanya baru didistribusikan ke rumah sekitarnya. Sedangkan listrik dari generator set di tiap RT dimanfaatkan oleh warga masing-masing RT dan hanya beroperasi pada pukul 17.30 WITA sampai 23.00 WITA. Demi mendapatkan akses listrik tersebut, masyarakat perlu membayar Rp. 10.000 untuk setiap lampu dan barang elektronik yang ada di rumahnya setiap bulan. Misal, dalam satu rumah terdapat 6 lampu maka perlu membayar Rp.60.000,- /bulan.

Selain membantu proses pembangunan PLTS, saya juga membantu mengajar anak-anak di sekolah dan di rumah, melakukan sosialisasi mengenai energi terbarukan ke guru-guru, dan mendampingi komunitas masyarakat muda dan ibu-ibu mengenali potensi lokal sembari mengenal budaya mereka. Dengan adanya listrik yang tersedia dari PLTS, tentu saja hal tersebut membuat masyarakat antusias karena dapat memanfaatkan listrik untuk kegiatan yang produktif dan anak-anak dapat belajar tanpa takut generator set bermasalah seperti sebelum-sebelumnya.  juga Demi kebutuhan pemeliharaan PLTS, dipilih beberapa local champion yaitu beberapa pemuda lokal yang memiliki ketertarikan untuk belajar mengenai sistem PLTS. Local champion memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengoperasikan PLTS, mengingat fasilitas pada saat itu masih harus menunggu sistem PLTD untuk dapat digunakan.

Program Patriot energi saat ini memang belum diadakan kembali. Menurut dan berdasarkan pengalaman saya, program ini bagus karena selain menyediakan infrastruktur ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan kepada masyarakat, juga memberikan pengalaman berharga bagi para patriot sendiri. Selama di penempatan saya merasa lebih bersyukur dan semakin mencintai Indonesia. Saya bersyukur akan berlimpahnya fasilitas dengan harga terjangkau yang sudah saya nikmati selama ini, disisi lain saya juga kagum dengan warga desa seperti suku Dayak yang hidup dari memanfaatkan dan menjaga alam. Semoga kedepannya fasilitas yang dengan mudah kita nikmati di Jawa seperti fasilitas sekolah dan sumber listrik dapat dinikmati secara merata di seluruh Indonesia.