Diskusi Publik Ruang Aksi 09: “Isu Energi Terbarukan pada Pemilu 2019 dalam Pandangan Milenial”

Diskusi Publik Ruang Aksi 09:  “Isu Energi Terbarukan pada Pemilu 2019 dalam Pandangan Milenial”

Dalam kegiatan Ruang Aksi 9 bertemakan “Isu Energi Terbarukan pada Pemilu 2019 dalam Pandangan Milenial” yang berlangsung sukses diselenggarakan pada 27 Februari 2019, bertempat di GoWork FX Jakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh Tim Milenial Pendukung Pasangan Calon Presiden No. 1 dengan KitaSatu (Pradana Adiputra) dan No.2 dengan Gerakan Milenial Indonesia (Nadhilo Arrahman) beserta perwakilan dari Generasi Melek Politik (Belinda Amri) dan Koaksi Indonesia (Juris Bramantyo) sebagai pembicara.

Antusiasme peserta sangat luar biasa, terlihat dari anak muda yang memenuhi kapasitas Ruang Aksi 9 di GoWork FX beberapa waktu lalu. Anak muda yang hadir berasal dari latar belakang yang berbeda yakni mahasiswa, NGO, media dan blogger, peneliti hingga sektor swasta. Kedatangan anak muda kali ini tentu saja membuat para pembicara merasa senang untuk berbagi mengenai apa itu energi terbarukan, seberapa urgensi penerapan tersebut hingga visi misi dari kedua pasangan calon presiden yang diwakili oleh Kita Satu dan Generasi Milenial Indonesia.

Dalam diskusi ruang aksi 9 kali ini dimulai oleh Azis Kurniawan berperan sebagai pembawa acara (Program Manager Koaksi Indonesia), Azis juga memberikan penjelasan singkat mengenai ruang aksi sebagai salah bentuk acara Koaksi Indonesia untuk menyuarakan isu-isu yang berkaitan dengan sustainability, terutama energi terbarukan. Mengangkat tema “Isu Energi Terbarukan pada Pemilu 2019 dalam Pandangan Milenial“ berkaca pada debat capres di 17 Februari 2019 silam. Menurut Azis, debat tersebut tidak memberikan solusi kongkret perihal Energi Terbarukan apalagi aspek sustainability-nya.

Dilanjutkan oleh Kevin Alexander (Periset Koaksi Indonesia) selaku moderator di acara ini, memulai diskusi dengan menanyakan kepada pembicara dan audiensi pandangan terhadap debat capres 17 Februari 2019 lalu. Menurut Belinda (GMP), debat capres (ke-2) ini cenderung lebih substantif, meskipun tidak memberikan solusi dan berpatokan terhadap bio energi yang padahal Indonesia memiliki banyak sekali potensi energi terbarukan salah satunya geothermal, air dan surya. Selaras dengan apa yang disampaikan Belinda, Juris Bramantyo (Manajer Kampanye Koaksi Indonesia) berpendapat bahwa Indonesia memiliki banyak potensi energi terbarukan, contohnya arus laut yang kuat (Ocean Energy), potensi panas bumi (Geothermal), angin dan gas. Sangat disayangkan ketika kedua paslon dengan gamblang menyampaikan dukungan penuh terhadap kaum milenial namun pada pernyataannya di debat capres (ke-2) tidak terlalu dilibatkan, khususnya untuk kasus ET ini dan pembahasan undang-undang yang berulang-ulang membuat milenial bertanya-tanya tindakan kongkret dari program Energi Terbarukan yang diinisiasi oleh kedua paslon tersebut.

Dalam hal ini, Pradana Adiputra (Kita Satu) berpendapat bahwa Presiden Joko Widodo (paslon 01) telah memberikan dukungan besar terhadap kaum milenial, terbukti dengan pembentukan BEKRAF. Presiden Joko Widodo juga berhasil menginisasi perencanaan jangka panjang unicorn (perusahaan rintisan berbasis teknologi), pendirian PLTB Sidrap dan lainnya. Bahkan untuk Jokowi-Amin, mereka memiliki program percepatan 2500 desa. Namun Nadhilo Arrahman (Generasi Milenial Indonesia) berpendapat, salah satu hal terbesar yang menghambat kemajuan energi terbarukan adalah perubahan undang-undang di Kementerian ESDM dan kebijakan pemerintah terkait Energi Terbarukan sendiri.

Tentu saja, pembicaraan diskusi ini tidak sekedar mendorong energi terbarukan ke pemerintah. Tapi juga bagaimana energi terbarukan mampu menjadikan lapangan pekerjaan bagi milenial di Indonesia. Dalam beberapa waktu belakangan bahkan, isu terkait energi terbarukan juga semakin populer di kalangan milenial, ketertarikan mereka terhadap isu ini terlihat dalam antusiasme tanya jawab yang ada di ruang aksi 9. Tidak hanya mengiyakan pendorongan isu energi terbarukan tapi juga menanyakan apakah dampak negatif dari munculnya energi terbarukan, utamanya biodiesel. Dikarenakan Koaksi Indonesia sedang melakukan riset mengenai penerapan biodiesel di Indonesia, maka Juris Bramantyo mengemukakan hasil riset dengan menyatakan pendukungan moratorium, karena sebetulnya pemerintah bisa melakukan ekstensifikasi lahan dan mengedukasi petani untuk memaksimalkan bibit dan produksi. Meski begitu untuk saat ini, Indonesia tidak memiliki roadmap transportasi, sehingga belum mampu menjawab tantangan lebih ramah lingkungan terkait transportasi biodiesel menggunakan tenaga listrik misalnya.

Kesimpulannya, para narasumber sepakat bahwa generasi milenial memiliki kekuatan besar dalam pemilihan umum. Sehingga hak suara yang akan mereka gunakan sangat menentukan bagi Indonesia dan masa depan mereka. Untuk itu, para narasumber menghimbau agar memilih pilihan secara bijak dan mengawal kebijakan yang akan dirumuskan hingga pelaksanannya nanti. Sebab dalam isu energi terbarukan yang diangkat dalam diskusi kali ini memiliki jangka waktu yang panjang dan membutuhkan dukungan dari generasi milenial yang akan menjalani masa depan.

Gambar 2. Foto bersama dengan para narasumber, Kita Satu, Generasi Milenial Indonesia beserta Koaksi Indonesia. (©Coaction/Irwan Citrajaya)

Penulis: Fika Triandini

 

 

 

 

 

 

shares